Info Jaro – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin menggelar seminar bertema isu lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya persoalan ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi lintas elemen untuk memperkuat peran keagamaan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Seminar tersebut dihadiri oleh unsur ulama, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, perwakilan pemerintah daerah, serta kalangan generasi muda.
Lingkungan Jadi Persoalan Moral dan Keagamaan
Dalam sambutannya, Ketua MUI Banjarmasin menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak semata-mata menjadi isu teknis, melainkan juga menyangkut tanggung jawab moral dan keagamaan. Kerusakan lingkungan, menurutnya, sering kali berawal dari perilaku manusia yang abai terhadap amanah menjaga alam.
“Dalam ajaran Islam, manusia adalah khalifah di bumi. Artinya, kita memiliki kewajiban untuk merawat dan menjaga lingkungan, bukan justru merusaknya,” ujar Ketua MUI Banjarmasin.
Bahas Dampak Kerusakan Lingkungan di Perkotaan
Seminar ini mengangkat berbagai isu lingkungan yang relevan dengan kondisi perkotaan, seperti pencemaran sungai, pengelolaan sampah, banjir, serta penurunan kualitas lingkungan hidup. Para narasumber memaparkan dampak nyata dari kerusakan lingkungan yang dirasakan masyarakat Banjarmasin dalam beberapa tahun terakhir.
Diskusi juga menyoroti pentingnya perubahan pola hidup masyarakat agar lebih ramah lingkungan, mulai dari pengurangan sampah plastik hingga menjaga kebersihan sungai.

Baca juga: ASN Terduga Pelaku KDRT di Desa Fatumuti TTU Ditahan Polisi
Peran Ulama dan Dakwah Lingkungan
Salah satu fokus seminar adalah penguatan peran ulama dan dai dalam menyampaikan pesan-pesan kepedulian lingkungan melalui dakwah. MUI menilai mimbar keagamaan memiliki pengaruh besar dalam membentuk kesadaran umat.
“Pesan tentang menjaga lingkungan harus terus disampaikan dalam ceramah dan pengajian, agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah,” kata salah satu narasumber.
Dorong Kolaborasi dengan Pemerintah dan Masyarakat
MUI Banjarmasin mendorong adanya kolaborasi antara tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan. Upaya pelestarian lingkungan dinilai tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak.
Seminar ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam program-program lingkungan, seperti edukasi pengelolaan sampah, gerakan bersih sungai, dan penghijauan kawasan permukiman.
Ajak Masyarakat Ambil Peran Aktif
Di akhir kegiatan, MUI Banjarmasin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dinilai mampu memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang.
“Kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan dari lingkungan terdekat,” pungkas perwakilan MUI Banjarmasin.
















