Info Jaro – Anak-anak dan remaja di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan kepedulian serius terhadap isu literasi digital dan ancaman radikalisme, khususnya di tengah pesatnya penggunaan media sosial dan platform digital dalam kehidupan sehari-hari. Isu ini mengemuka dalam sejumlah forum diskusi, kegiatan edukasi, dan ruang partisipasi anak yang digelar di berbagai daerah di NTT.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menjadi pengguna aktif teknologi digital, tetapi juga mulai memahami risiko yang menyertainya, termasuk penyebaran paham intoleran dan radikal yang menyasar anak-anak dan remaja.
Literasi Digital Dinilai Masih Rendah
Dalam berbagai kesempatan, anak-anak NTT menyoroti rendahnya tingkat literasi digital di kalangan pelajar. Banyak di antara mereka mengaku masih kesulitan membedakan informasi yang benar dan hoaks, terutama yang beredar luas di media sosial.
Akses internet yang semakin mudah tidak selalu diimbangi dengan pemahaman kritis dalam menyaring konten. Kondisi ini dinilai berbahaya karena membuka peluang masuknya narasi provokatif, ujaran kebencian, hingga paham radikalisme yang dibungkus dalam konten keagamaan maupun ideologi tertentu.
“Media sosial itu cepat sekali menyebarkan informasi. Kalau tidak hati-hati, kita bisa percaya hal yang salah,” ujar salah satu perwakilan forum anak di NTT.
Anak dan Remaja Rentan Terpapar Paham Radikal
Anak-anak menilai kelompok usia mereka menjadi sasaran empuk penyebaran paham radikal karena rasa ingin tahu yang tinggi, pencarian jati diri, serta minimnya pendampingan digital. Konten-konten ekstrem kerap disajikan dengan bahasa sederhana, visual menarik, dan narasi emosional yang mudah memengaruhi psikologis anak.
Beberapa peserta diskusi menyebutkan bahwa propaganda radikal tidak selalu muncul secara terang-terangan, tetapi sering disusupkan melalui konten motivasi, ceramah singkat, atau video yang memanfaatkan isu ketidakadilan sosial.
“Kadang kelihatannya biasa saja, tapi lama-lama mengarah ke ajakan yang ekstrem,” ungkap seorang pelajar.

Baca juga: BRI Salurkan Bantuan ke Sumatera-Aceh, Jangkau Lebih dari 70 Ribu Korban
Peran Keluarga dan Sekolah Dinilai Krusial
Anak-anak NTT menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam membangun literasi digital sejak dini. Pendampingan penggunaan gawai, diskusi terbuka tentang konten digital, serta edukasi nilai toleransi dan kebhinekaan dinilai menjadi benteng utama dari pengaruh negatif dunia maya.
Mereka berharap sekolah tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga memberikan ruang edukasi terkait etika bermedia sosial, keamanan digital, serta bahaya radikalisme dan intoleransi.
“Guru dan orang tua perlu tahu apa yang kami lihat di internet, supaya bisa saling berdiskusi,” kata salah satu peserta.
Dorong Pemerintah Perkuat Edukasi Digital Ramah Anak
Dalam penyampaiannya, anak-anak NTT juga mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat program literasi digital yang ramah anak. Program tersebut diharapkan tidak bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan dan melibatkan anak sebagai subjek, bukan sekadar objek.
Mereka mengusulkan agar kegiatan literasi digital dikemas secara kreatif melalui diskusi interaktif, simulasi, dan pemanfaatan media yang dekat dengan dunia anak, seperti video pendek dan permainan edukatif.
Anak Sebagai Agen Perdamaian
Meski mengakui adanya ancaman radikalisme, anak-anak NTT menegaskan bahwa generasi muda juga memiliki potensi besar sebagai agen perdamaian. Dengan pemahaman digital yang baik, anak-anak dapat menjadi pelopor penyebaran pesan toleransi, moderasi beragama, dan persatuan melalui media sosial.
Mereka berharap suara anak didengar dalam perumusan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan anak di ruang digital.
“Kami ingin internet jadi tempat yang aman dan positif untuk semua anak,” tutup perwakilan forum anak.
Tantangan di Era Digital
Isu literasi digital dan radikalisme dinilai akan terus menjadi tantangan seiring perkembangan teknologi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Kesadaran kritis yang disuarakan anak-anak NTT ini menjadi sinyal penting bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak bisa menunggu, dan harus dimulai dari pendidikan serta pendampingan yang berkelanjutan sejak usia dini.
















