Jaro – Suasana haru mewarnai sidang pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) terhadap Kompol Cosmas Kaju Gae, seorang perwira menengah Polri yang resmi dipecat dari keanggotaannya. Dalam momen penuh emosi itu, Cosmas tampak membuat tanda salib dan tak kuasa menahan air mata di hadapan para pejabat Polri yang hadir.
Sidang PTDH Digelar dengan Khidmat
Prosesi PTDH dilakukan dengan khidmat sesuai prosedur Polri. Upacara yang digelar secara resmi itu turut dihadiri pimpinan kepolisian, rekan sejawat, serta sejumlah pejabat utama. Dalam pembacaan keputusan, disampaikan bahwa pemberhentian Cosmas dilakukan karena adanya pelanggaran kode etik yang dinilai serius.
Meski keputusan ini telah melalui proses panjang, momen pembacaan hasil sidang tetap meninggalkan kesan mendalam, baik bagi Cosmas maupun seluruh anggota yang hadir.
Tanda Salib dan Air Mata Seorang Polisi
Saat dipanggil ke depan, Cosmas tampak berdiri tegap meski dengan wajah sendu. Usai menerima putusan, ia membuat tanda salib di dada sebagai ungkapan pasrah dan doa, lalu menangis di hadapan forum.
Beberapa rekan sesama polisi yang hadir tak kuasa menahan rasa iba. Ada yang memberikan pelukan, ada pula yang mengusap air mata saat melihat sosok perwira yang telah lama mengabdi itu harus menanggalkan seragam kebanggaannya.

Baca juga: Empat Calon Rektor Undana Resmi Ditetapkan, Proses Penyaringan Dimulai 23 September
Alasan Pemberhentian
Dalam pernyataan resmi, pihak kepolisian menyebutkan bahwa pemecatan ini merupakan langkah tegas atas pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi. Meski begitu, detail pelanggaran yang dilakukan Cosmas tidak sepenuhnya dipublikasikan ke ruang publik, dengan alasan menjaga martabat yang bersangkutan dan institusi.
“Setiap anggota Polri terikat pada sumpah dan kode etik. Jika ada yang melanggar, kami harus menegakkan aturan meski berat,” ujar pejabat yang membacakan keputusan.
Perjalanan Panjang Pengabdian
Kompol Cosmas Kaju Gae diketahui telah lama mengabdi sebagai anggota Polri. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting di wilayah kerjanya. Beberapa rekannya mengenang dirinya sebagai sosok pekerja keras, meski pada akhirnya perjalanan kariernya harus berakhir dengan keputusan pahit ini.
“Pak Cosmas itu orangnya tegas, tapi juga ramah. Kami tidak menyangka akhirnya begini. Kami doakan beliau tetap kuat menghadapi cobaan,” ujar salah seorang mantan rekan kerja.
Refleksi dan Harapan
Meski pahit, momen pemecatan ini menjadi pengingat bahwa disiplin dan integritas adalah harga mati bagi setiap anggota Polri. Institusi berharap kasus Cosmas dapat menjadi pelajaran bagi personel lain agar selalu menjunjung tinggi kode etik dan profesionalisme.
Sementara itu, bagi Cosmas sendiri, momen ini tampaknya menjadi titik balik kehidupannya. Dengan tanda salib dan air mata, ia seakan menyerahkan seluruh beban pada Sang Pencipta sembari membuka lembaran baru di luar institusi kepolisian.
Penutup
Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae menjadi salah satu peristiwa emosional yang menyisakan pelajaran mendalam bagi institusi Polri dan masyarakat. Di balik ketegasan aturan, ada sisi manusiawi yang terlihat jelas: air mata seorang polisi yang harus merelakan seragamnya pergi untuk selamanya.
















