Info Jaro — Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) sekaligus evaluasi pelaksanaan Program One Village One Product (OVOP) sebagai upaya memperkuat kualitas produk unggulan desa dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kegiatan berlangsung pada Selasa di Kupang dan dihadiri oleh perwakilan 22 kabupaten/kota se-NTT.
Dorong Desa Miliki Produk Unggulan Berdaya Saing
Kepala Dinas PMD NTT dalam sambutannya menegaskan bahwa program OVOP bukan hanya sekadar menghasilkan produk desa, tetapi juga memastikan bahwa setiap produk mempunyai keunikan lokal, nilai tambah, serta daya saing di pasar regional maupun nasional.
“OVOP adalah strategi penting untuk memajukan ekonomi desa. Kita ingin setiap desa tidak hanya memproduksi, tetapi juga mampu memasarkan produk mereka secara berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, beberapa desa di NTT telah menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan produk unggulan, seperti tenun ikat, garam tradisional, hasil olahan kelautan, minyak atsiri, dan aneka produk pertanian.
Evaluasi Menyeluruh Pelaksanaan OVOP
Dalam rakor ini, Dinas PMD meminta setiap kabupaten memaparkan perkembangan program OVOP di wilayah masing-masing. Sejumlah persoalan muncul sebagai catatan, antara lain:
-
Minimnya pelatihan pengemasan dan pemasaran digital
-
Keterbatasan akses permodalan
-
Produksi yang belum konsisten
-
Kualitas bahan baku yang fluktuatif
-
Belum optimalnya pendampingan oleh perangkat desa
Tim evaluasi juga menekankan pentingnya standardisasi produk termasuk perizinan PIRT, sertifikasi halal, dan desain branding agar produk desa mampu masuk pasar modern.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dinas-PMD-gelar-Rakor-dan-Evaluasi-Program-OVOP.jpg)
baca juga: Banjarmasin segera terapkan Perda Perlindungan Perempuan dan Anak
Perlu Kolaborasi dengan Banyak Pihak
Dinas PMD NTT menekankan bahwa keberhasilan OVOP di daerah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah desa. Kolaborasi dengan lembaga pelatihan UMKM, akademisi, pelaku industri, dan platform perdagangan digital sangat diperlukan.
Dalam kesempatan tersebut, beberapa narasumber dari dunia usaha dan lembaga pendamping turut berbagi strategi meningkatkan kualitas produk, termasuk penggunaan teknologi sederhana untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Kita ingin OVOP tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan ekonomi nyata yang mengubah kesejahteraan warga desa,” ujar salah satu narasumber.
Kabupaten Diminta Tingkatkan Pendampingan
Melalui rakor ini, Dinas PMD menekankan kepada pemerintah kabupaten agar memperkuat pendampingan terhadap kelompok pengrajin dan pelaku UMKM desa. Pendampingan diharapkan mencakup manajemen usaha, literasi keuangan, pemasaran digital, hingga pengembangan jejaring pemasaran.
Beberapa kabupaten melaporkan program inovasi yang mulai menunjukkan hasil, seperti desa penghasil kopi dengan sistem cluster, desa wisata tenun, serta penguatan ekonomi perempuan melalui produk olahan pangan lokal.
Rencana Tindak Lanjut: Penguatan 100 Produk Unggulan
Sebagai tindak lanjut, Dinas PMD NTT menargetkan penguatan sedikitnya 100 produk unggulan desa yang akan dibina lebih intensif mulai tahun depan. Produk-produk tersebut nantinya diprioritaskan masuk dalam katalog lokal pemerintah, pameran ekonomi kreatif, dan platform e-commerce.
Selain itu, pemerintah provinsi tengah menyiapkan skema bantuan peralatan sederhana bagi desa yang telah menunjukkan kesiapan produksi.
Harapan Warga Desa
Peserta dari beberapa desa menyambut baik kegiatan evaluasi ini. Mereka berharap pemerintah terus memberikan dukungan, terutama pelatihan lanjutan dan akses pemasaran yang lebih luas.
“Kami sudah punya produk, tapi masih kesulitan masuk pasar besar. Dengan adanya pendampingan ini, semoga bisa lebih berkembang,” ujar salah satu peserta dari Kabupaten Sumba Barat.
















