Info Jaro — Aksi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan oleh ribuan guru dari berbagai daerah di sekitar Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, pada Rabu (29/10/2025), membuat arus lalu lintas di kawasan tersebut ditutup total menuju arah Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS). Massa menuntut kejelasan status kepegawaian dan perbaikan kesejahteraan bagi tenaga pendidik non-ASN di seluruh Indonesia.
Ribuan Guru Padati Patung Kuda
Sejak pukul 08.00 WIB, kawasan Patung Kuda mulai dipadati oleh massa guru yang datang dengan membawa spanduk, poster, dan atribut organisasi profesi. Aksi tersebut diinisiasi oleh sejumlah organisasi guru seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan perwakilan guru honorer dari berbagai provinsi.
Para peserta aksi tampak mengenakan pakaian seragam hitam putih dan berorasi secara bergantian di depan barisan mobil komando. Mereka menuntut pemerintah segera menindaklanjuti janji pengangkatan guru honorer menjadi ASN atau PPPK secara menyeluruh serta menolak wacana penghapusan formasi baru bagi tenaga pendidik non-ASN tahun depan.
“Kami sudah terlalu lama mengabdi tanpa kepastian. Guru bukan pekerja sementara, tapi ujung tombak pendidikan bangsa,” teriak salah satu orator aksi, Siti Nurhayati, guru dari Bekasi.
Lalu Lintas Dialihkan
Kepolisian memastikan penutupan dan pengalihan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan utama imbas dari aksi tersebut. Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Jhoni Simatupang, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan mulai dari arah Bundaran HI menuju Istana Negara dan arah Kedubes AS di Jalan Medan Merdeka Selatan.
“Arus kendaraan dialihkan ke Jalan MH Thamrin dan Jalan Kebon Sirih. Kami menurunkan sekitar 500 personel untuk pengamanan dan pengaturan lalu lintas,” ujarnya.
Polisi juga memasang barikade kawat berduri di sekitar kawasan Istana Negara guna mengantisipasi massa yang mencoba mendekat. Meski begitu, hingga siang hari aksi berlangsung tertib dan damai dengan pengawalan ketat aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Satpol PP, dan TNI.

Baca juga: Bupati Kupang Pimpin Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Oelamasi
Tuntutan Guru
Dalam petisi yang dibacakan di depan massa, para guru menyampaikan tiga poin utama tuntutan, yakni:
-
Pemerintah segera menuntaskan rekrutmen PPPK guru tanpa diskriminasi.
-
Menjamin pembayaran gaji tepat waktu dan tunjangan profesi bagi seluruh guru honorer.
-
Menolak kebijakan penghapusan tenaga honorer tahun 2026 tanpa solusi yang jelas.
Mereka juga menuntut peningkatan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen APBN benar-benar difokuskan pada kesejahteraan tenaga pendidik, bukan hanya pembangunan infrastruktur sekolah.
“Guru adalah fondasi negara. Kalau kami terus dipinggirkan, bagaimana masa depan pendidikan Indonesia bisa maju?” kata Ketua FSGI Retno Listyarti dalam orasinya.
Respons Pemerintah
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merespons aksi tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah masih mengevaluasi mekanisme seleksi ASN/PPPK guru tahun mendatang.
“Kami memahami aspirasi para guru. Pemerintah berkomitmen menyelesaikan status tenaga honorer secara bertahap, sesuai kemampuan fiskal negara,” ujar Plt. Kepala Biro Humas Kemendikbudristek, M. Ikhsan dalam keterangan tertulisnya.
Sementara itu, sebagian massa memilih bertahan di sekitar kawasan Patung Kuda hingga sore hari. Polisi mengimbau pengguna jalan untuk menghindari area tersebut dan menggunakan jalur alternatif seperti Jalan Abdul Muis, Jalan Wahid Hasyim, dan Jalan Kebon Sirih.
Aksi Berlangsung Kondusif
Hingga menjelang sore, aksi berlangsung kondusif tanpa insiden berarti. Massa sempat melakukan doa bersama dan menyanyikan lagu “Hymne Guru” sebelum akhirnya membubarkan diri secara tertib.
Meski begitu, sejumlah perwakilan guru berjanji akan melanjutkan aksi serupa pekan depan jika tuntutan mereka belum mendapat jawaban konkret dari pemerintah pusat.
“Ini bukan sekadar protes, tapi perjuangan martabat guru Indonesia,” tegas Retno.
















